Jejak Langkah MUNADI KILKODA

Caleg No 4, Dapil I Halteng, Partai NasDem



Munadi Kilkoda saat menghadiri RDP Perda Masyarakat Adat antara DPRD Halteng dengan AMAN

Pria bernama lengkap Munadi Kilkoda ini, sangat lekat dengan Organisasi Aliansi Masyarakat Adat Nusantara. Selama 12 Tahun terakhir, Ia mendedikasikan dirinya mendampingi hak-hak masyarakat adat, tanpa keluh-kesah.

Pria kelahiran Messa 18 Mei 1986, Halmahera Tengah ini adalah anak ke dua dari empat bersaudara. Kini telah berumah tangga dengan mempersunting perempuan asal Soasio Tidore Novitasari Alting. Dengan kepribadian sederhana, pria yang sering disapa Nadi ini, melewati tahapan belajarnya dari SD, SMP hingga SMA di Weda. Ia kemudian, melanjutkan studinya di sebuah perguruan tinggi  di Universitas Muhammadiyah Maluku Utara, sembari  menekuni jurusan ilmu politik, hingga lulus sebagai Sarjana tahun 2010.

Selain itu, Munadi, mengawali karir pertamanya sebagai Ketua Umum HMI Komisariat FISIP UMMU Ternate, Ketua Bidang Hukum dan HAM, HMI Cabang Ternate, menjadi pengurus di Wahana Lingkungan Hidup Maluku Utara, sempat menjadi Pengurus Yayasan Forum Studi Halmahera (Foshal), Wakil Ketua KNPI Maluku Utara, Ketua Bidang di Forum DAS Maluku Kie Raha, salah satu Pengurus KAHMI Maluku Utara, termasuk menjadi salah satu inisiator yang mendirikan Jaringan Sunda Kecil-Maluku yang menghimpun kelompok masyarakat sipil di Maluku, Maluku Utara, NTT, NTB dan Bali dan Ketua AMAN Maluku Utara, hingga kini.

Pengembaraan yang ia lakukan dari kampung satu ke kampung yang lain, semata-mata demi membangun masa depan masyarakat adat di Maluku Utara. Selain itu, kehadiranya juga dapat memberi semangat kepada Masyarakat Adat, untuk tetap berdaulat di atas tanah mereka sendiri. Seringkali tubuhnya menjadi tempat bersandar masyarakat adat sambil mencurahkan isi hati mereka. Integritas Munadi di uji selama mendampingi masyarakat adat yang berkasus dengan perusahan tambang, kayu dan sawit. Bahkan beliau pernah ditawari untuk duduk di posisi penting di salah satu perusahan tambang raksasa di Maluku Utara, berangkat studi ke luar negeri, asal tidak lagi melakukan perlawanan ke perusahan tersebut, namun dengan tegas dia menolak. Munadi yang sederhana itu mengatakan, saya yang merintis jalan ini, tidak mungkin saya menjadi penghianat dan pecundang. Sikap itu yang membuat dia disegani oleh kawan dan lawan dalam gerakan masyarakat adat.

Munadi juga sering terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan Nasional maupun Internasional, seperti training perubahan iklim level Asia di Thailand dan menjadi utusan masyarakat adat di forum Cordillera Day di Filipina, menjadi pembicara di berbagai forum masyarakat sipil yang diselenggarakan di Nasional dan Lokal. Tak hanya itu, Munadi dibeberapa kesempatan ia juga memimpin sidang-sidang di kegiatan Nasional Aliansi Masyarakat Adat Nusantara.  

Munadi adalah sosok yang tak senang dipuji dan disanjung terlebih dihormati secara berlebihan. Menurutnya semua orang berhak duduk bersama. Tanpa memandang status sosial. Dalam setiap kesempatan, Ia sangat tidak setuju dengan stigma berlebihan tentang orang kampung. Menurutnya orang kampung juga memiliki harga diri dan hak yang sama.

Dengan semangat dan kegigihan yang tinggi, ia senantiasa meluangkan waktunya untuk mengunjungi komunitas masyarakat adat di berbagai wilayah di Indonesia. Berbagi pengalaman dan pengetahuan terkait isu-isu agraria, lingkungan, perjuangan-perjuangan masyarakat adat dan persoalan-persoalan kerusakan di sektor kepulauan.

Munadi Kilkoda saat memberi penguatan kepada masyarakat adat Fritu (Dok. AMAN)

Ia juga menjadi penulis aktif di beberapa media lokal maupun nasional, terkait isu-isu pembangunan di sektor sumberdaya alam dan perampasan ruang hidup masyarakat adat. Munadi juga sering menggunakan Media Sosial (Medsos) untuk menyampaikan kritik kepada kebijakan yang tidak berpihak pada masyarakat adat dan lingkungan. Namun bukan kritik tanpa solusi. Munadi juga sering menyampaikan pandangan dan konsep kebijakan yang semestinya dilakukan oleh pemerintah. Kata dia, “Tugas kita menegur dan meluruskan jika mereka salah, dan memberi jalan yang benar kepada mereka”

Lebih lanjut kata dia, karena kekuasan itu cenderung absolut, makanya butuh kontrol publik yang kuat. Kekuasaan itu harus digunakan sebagai alat menciptakan keadilan bagi manusia dan alam semesta.

Semangat yang tertanam dalam dirinya untuk memperjuangkan nasib masyarakat adat, laksana bara api yang terus-menerus berkobar dan bergelora di dalam jiwanya.

Berselang waktu, lewat keputusan dan pertimbangan yang panjang. Munadi, akhirnya membulatkan tekadnya ikut mencalonkan diri sebagai Anggota DPRD lewat Partai NASDEM, Dapil I, Kab Halmahera Tengah, Nomor Urut 4.

Bagi Munadi, keputusan untuk mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Kab. Halmahera Tengah, merupakan jalan tengah pengabdian mewujudkan cita-cita masyarakat adat beserta hak-haknya yang selama ini termarjinalkan.   

Beberapa Parpol menawarkan dirinya untuk maju ke DPRD Provinsi. Namun kata beliau, pilihan ke level tersebut terlalu terburu-buru, di saat yang bersamaan wilayah pertarungan masyarakat adat itu ada di Kabupaten dan Kota. Bagi dia, dengan posisi di Kabupaten, akan lebih gampang melahirkan produk hukum dan kebijakan yang berpihak pada masyarakat adat dan lingkungan. Selain itu kata Munadi “saya tidak mau jauh-jauh dari masyarakat adat”

Harapan Munadi Kilkoda, mengusulkan dan memilih dirinya sebagai anggota DPRD adalah jalan sejarah Restorasi menuju Kab. Halmahera Tengah. Dengan nafas semboyang yang terpatri di dalam dirinya. “Berdaulat Secara Politik, Mandiri secara Ekonomi dan Bermartabat secara Budaya”.