Hujan Sehari, Maluku Utara Serentak Dilanda Banjir

Banjir dan Longsor terjadi kemarin (17/6), Foto diambil dari berbagai sumber.

“Telah nampak kerusakan didarat dan dilaut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Alllah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali kejalan yang benar”. (QS. ar-Rum: 41).

Maluku Utara, Sabtu, 17 Juni  2017. Hujan sehari  yang melanda Bumi Maluku Kie Raha hingga terjadi banjir yang menyapu perkampungan di beberapa kota, serentak Malut dilanda banjir hingga menjadi trending topik dimedia sosial Facebook.

Terlihat di postingan media sosial (medsos) banjir ini terjadi di  Halmahera Timur, Halamhera Tengah, Halmahera Barat, Pulau Moti, Kota ternate dan Kota tidore hingga menyebabkan Longsor yang parah. Luapan banjir ini hingga setinggi pinggang orang dewasa bahkan mencapai dada. Semua  ini terjadi karena ulah tangan manusia sebagaimna  disebutkan dalam Al-Qur’an Surat Ar-Rum: 41.

Pantauan AMAN Maluku Utara lewat media sosial, banjir juga melanda Taliabu, Obi, bacan dan Bobong. Hingga berita ini dinaikkan belum diketahui pasti kerugian yang melanda Korban banjir. AMAN juga memperkirakan banjir akan di kampung yang jauh dari pusat informasi. Karena itu, bencana yang melanda beberapa Kabupaten kota menuai kritikan dari aktivis di Maluku Utara lewat media sosial.

Munadi Kilkoda, dalam Postingannya di Facebook mengatakan “ Harus ada langkah cepat mengatasi bencana ini. Tidak boleh Gubernur, Bupati/Walikota diam dan tidak berbuat apa-apa. Daya dukung lingkungan kita makin kritis. Perilaku eksploitatif harus dihentikan, ini masalah serius. Tulis Ketua AMAN Maluku Utara disertakan Hastag Malut Darurat Bencana di akunnya.

Munadi juga menambahkan, Luapan banjir tersebut diduga berasal dari sistem drainase yang tidak berfungsi dengan baik. Rata-rata drainase yang dibuat tingginya kurang lebih 1 meter. tulis Munadi Kilkoda.

Kritikan keras juga disampaikan Ketua Aliansi Jurnalis Independen  Indonesia  (AJI) Kota Ternate, lewat komentarnya Mahmud Ichi menulis. “ Gempita politik meruntuhkan kekhalifaan sebagai pelindung dan penyelamatan Bumi. Pengetahuan dan rasa empati kita pada Alam hanya seremoni belaka, Bencana mengancam, lalu hanya menunggu kiamat itu datang tanpa ada sedikitpun usaha penyelamatan ?. Tulis Michi sapaan akrapnya.

Ketua AJI juga melanjutkan. “ Negeri pulau ini yang merasakan bencana adalah mereka yang papa dan tak berdaya. Lalu, yang mengatur Negeri ini di mana mereka ?. Tulisnya.

Sementara itu Abdullah Ismail nama akun Fecebook ia berkomentar, “ suda saatnya kita semua harus peduli dengan lingkungan saat ini ”. Ajak Abdullah.

Selain itu, tampaknya sampa juga menjadi masalah lebih khusus di kota ternate, kesadaran masyarakat yang masih minim hingga membuang sampa bukan pada tempanya. Hal ini mendapat kiritikan seperti yang ditulis Dzubyan Syafri  “ ukuran drainase kecil, pembangunan di daerah hulu dan kebiasaan masyarakat buang sampa dalam saluran” komentarnya yang di kutip lewat akun.

Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Malut Ismed Soleman, menulis postingan di Akun Facebooknya, beberapa hari lalu. Rabu,(14/06/2017) Pukul 01.14 WIT.

Ismed menyebutkan dalam postingannya.  “ Banjir?, Simpel saja bacaannya. Ketika Manusia tidak merasa sebagai bagian dari satu kesatuan tata sistem ekologi dalam pembangunan dan penataan kota”. Tulis Dante sapaan akrabnya.

Dante melanjutkan, Keluh kesah hanya akan menyebabkan problem itu berulang. Penyatuan keluh kesah mestinya berubah menjadi aksi yang mendidik top eksekutif di pemerintahan sebagai pelaksana mandat rakyat agar melihat kepentingan publik dalam pembukaan lahan dan pembangunan. Rakyat mesti mampu mengarahkan keluh kesah mereka sebagai peluru menuju perubahan kebijakan publik ke arah yang lebih populis berwawasan lingkungan hidup. Tulis Dante seperti di kutip lewat Akun pribadinya. (ADI)